5S, Model Pembelajaran Karakter

22

Penguatan adalah upaya yang dilakukan untuk mempertegas pencapaian suatu tujuan. Sedangkan karakter adalah serangkaian sikap dan sifat khas yang terdapat dalam setiap individu yang terbentuk dari hasil nteraksi dengan lingkungan yang berupa nilai-nilai perilaku individu yang senantiasa dijaga. Dan jika mengacu pada penguatan karakter berarti kita sedang mempertegas pencapaian untuk terbentuknya karakter peserta didik sesuai dengan nilai-nilai moral, berbangsa dan bernegara, serta etika dan budaya.

Ada 18 nilai pendidikan karakter bangsa, salah satunya adalah sikap bersahabat/komunikatif. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007;585 & 977), bersahabat adalah berteman/berkawan yang menyenangkan dalam pergaulan, sedangkan komunikatif adalah keadaan saling berhubungan, bahasanya mudah dipahami sehingga pesan yang disampaikan mudah diterima dengan baik. Berdasarkan uraian tersebut disimpulkan bahwa bersahabat/komunikatif adalah sikap atau tindakan yang berhubungan dengan orang lain yang didalamnya terdapat komunikasi yang mudah dimengerti sehingga terwujud suasana yang menyenangkan.

Karakter bersahabat berbeda dengan komunikatif, namun dalambersahabat terdapat proses komunikasi. Karakter bersahabat menunjukkan sikap yang akrab, menyenangkan, dan santun dalam berbicara, bergaul, dan bekerjasama dengan orang lain. Karakter ini menjadi modal penting dalam bermasyarakat. Oleh karena itu diperlukan suatu usaha yang lebih tegas demi menumbuhkan nilai karakter tersebut secara lebih kuat dan mewujud pada diri peserta didik.

Sesuai UU N0. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan, bahwa Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan YME, berakhlakul karimah, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan tujuan pendidikan tersebut, maka setiap lembaga pendidikan mempunyai beban dan tanggung jawab yang tidak ringan, karena tidak hanya sekedar bertanggung jawab dalam mencerdaskan intelektual peserta didik (IQ) tetapi juga mempunyai kewajiban untuk mengembangkan kecerdasan emosional (EQ) peserta didik, dan tidak ketinggalan juga mengembangkan kecerdasan spiritual peserta didik (SQ). Dengan dimilikinya ketiga kecerdasan oleh setiap peserta didik maka tujuan pendidikan sebagaimana dimaksud baru akan tercapai dan masa depan bangsa akan terjaga pula karena pada kenyataannya banyak orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi tetapi tidak diiringi dengan kecerdasan yang lain, maka sering menciptakan kerugian dala masyarakat.

Melihat fenomena yang demikian itu, SMP N 39 Semarang sebagai bagian dari lembaga pendidikan terpanggil untuk merealisasikan tujuan pendidikan yang dmaksud. Salah satu program yang dilaksanakan adalah membudayakan 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun) yang biasa kita lakukan saat berinteraksi dengan orang lain.

S yang pertama adalah Senyum. Setiap warga SMP 39 Semarang diharapkan memberikan senyum kepada sesama apabila saling bertemu. Senyum tulus yang terpancar dari wajah kita saat berbicara dengan orang lain pasti akan membuat lawan bicara kitanyaman. Hati kita ikut terimbas bahagia saat senyum menghiasi wajah

Bagaimanapun rupa kita, lawan bicara kita akan ikut tersenyum melihat kita tersenyum. Senyum adalah ibadah yang paling mudah dan murah. Dengan senyum kita bisa mengajarkan anak untuk menghibur orang lain yang sedang bersedih.

S yang kedua adalah Sapa, artinya disamping menebar senyum diharapkan saling bertegur sapa sebagai wujud kepedulian terhadap sesama warga SMP N 39 Semarang. Sapa-an ramah yang kita ucapkankepada orang lain akan membuat suasana menjadi akrab dan hangat.

Biasakanlah menyapa, mulailah pada seseorang yang berada didekat kita. Dalam menyapa kita ajarkan peserta didik untuk melakukan kontak mata ketika berkomunikasi. Kita tanamkan anak untuk membantu oranglain yang sedang kesulitan dan bisa berbagi dengan orang lain.

S yang ketiga adalah Salam. Salam yang diucapkan dengan ketulusan mampu mencairkan suasana kaku. Setiap peserta didik yang bertemu dengan Bapak/Ibu Guru, Karyawan, dan teman-temannya dibiasakan mengucapkan salam, ‘Assalamualaikum, Selamat Pagi, Selamat Siang’. Bila ada seseorang yang mengucap salam dengan suara lembut dan bersahabat, hati kita pun terasa sejuk mendengarnya.

Didalam sapa salam ada nuansa tersendiri. Persaudaraan berawal dari salam, mari kita tebarkan salam. S yang keempat adalah Sopan, Sopan ketika duduk, sopan ketika lewat didepan orang tua, sopan kepada guru. Sopan ketika berbicara, sopan ketika berinteraksi dengan orang lain. Diharapkan peserta didik memiliki sikap ‘andhap asor’ yang maksudnya tidak sombong, angkuh dan tinggi hati, melainkan senantiasa bermurah hati dan rendah hati. Biasakan untuk menggunakan kata-kata yang positif. mengucapkan kata tolong ketika membutuhkan bantuan, meminta izin menggunakan barang orang lain dan mengucapkan terima kasih setelah menggunakan. Kita ajarkan anak meminta maaf bila berbuat kesalahan, biasakan mendengarkan pendapat orang lain dan tidak memotong pembicaraan orang lain Selain itu perlu ditanamkananak untuk menggunakan bahasa tubuh yang baik saat berkomunikasi. S yang kelima adalah Santun. Santun adalah sifat yang hanya dimiliki oleh orang-orang istimewa. Orang-orang yang mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya. Orang-orang yang mengalah memberikan haknya untuk kepentingan orang lain semata-mata untuk kebaikan. Sejauh manakah kesantunan yang kita miliki?

Sejauh mana kelapangdadaan kita ? Sejauh mana sifat pemaaf kita ? Dengan 5 S semoga SMP Negeri 39 Semarang akan semakin dikenal masyarakat, Visi SMP Negeri 39 “Unggul dalam Prestasi yang dilandasi Iman, Taqwa, Budi Pekerti Luhur dan Berwawasan Lingkungan” akan terwujud. (Oleh Rini Rusmiasih, Guru Bahasa Jawa SMP N 39 Semarang).