Pemilu Jangan Bikin Pilu

17

Pemilihan gubernur, bupati dan walikota  sebentar lagi akan digelar secara serentak, penyelenggaraan pemilu sejatinya menjadi ajang pemuliaan martabat manusia, sebab lewat mekanisme demokrasi dapat dipilih pemimpin-pemimpin yang berkualitas, baik untuk pemilihan legislatif (Pileg) di DPR/DPRD dan DPD, ataupun pemilihan eksekutif, yakni pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres), gubernur dan nupati atau walikota yang dilaksanakan serentak. Di pundak merekalah bergantung nasib jutaan rakyat Indonesia. Melalui mereka, impian kesejahteraan rakyat Indonesia ini, diharapkan dapat menjadi kenyataan.

Sayangnya, sistem seleksi kepemimpinan lewat mekanisme demokrasi pemilu di Indonesia, terkadang mengalami disorientasi. Pemilu sering dinilai gagal untuk mencapai tujuan utamanya, yaitu menghasilkan pemimpin-pemimpin berkualitas, yang mampu memimpin dan mengelola negara demi kesejahteraan rakyat. Demokrasi alih-alih bermetamorfosa menjadi sistem politik “dagang sapi” yang sangat transaksional. Dalam konteks ini, menurut Dr Solatun Dulah Suyati MSi dalam karya terbarunya terbitan Januari 2014, sistem ini telah mengabaikan kapasitas, integritas dan kapabilitas moral dan pengetahuan calon pemimpin.

Karena, yang dibutuhkan calon pemimpin dalam sistem politik “dagang sapi” ini adalah popularitas dan kemampuan ekonominya yang kuat, bukan lagi kapasitas, integritas dan kapabilitas kepribadiannya. Demokrasi di Indonesia diakuinya menjadi proses transaksional dan proses industrialisasi politik yang paling kapitalistik di dunia, bahkan melampaui praktik yang pernah ada di Amerika.
Untuk itu, pada kesempatan ini kita akan mengulas sedikit mengenai bagaimana memilih pemimpin dalam konsepsi Islam. Kriteria apa yang harus dimiliki seorang pemimpin? Diharapkan tema ini menjadikan pencerahan bagi kita semua dalam memilih pemimpin, dalam memilih pemimpin. Nabi Muhammad lahir ke dunia, untuk menggenapkan misi suci yang telah dibawa para nabi dan rasul sebelumnya. Allah telah menurunkan risalah yang satu ini, untuk memimpin dan membimbing manusia di segala zaman. Perbedaan bahasa dan budaya, serta tantangan lingkungan di setiap masa, tidak dapat menyimpangkan nilai-nilai universal Islam yang dibutuhkan manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Nilai-nilai universal itu, antara lain: mengesakan Allah Sang Pencipta (tauhid), menegakkan keadilan, menebarkan kedamaian dan kebaikan, serta mencegah kemungkaran dan penindasan. Untuk menjalankan misi yang berat ini, maka diperlukan karakter manusia yang kokoh integritas dan kepribadiannya, sebagaimana tercermin dalam sifat-sifat wajib Nabi yang empat, yaitu shidq atau jujur, amānah atau dapat dipercaya, fathānah  atau cerdas, dan tablīgh atau komunikatif dalam istilah manajemen modern.

Karena keterbatasan waktu, fokus khutbah kali ini adalah tentang karakter amānah atau dapat dipercaya. Apa itu amanah? Bagaimana Islam bicara tentang amanah? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang harus diajukan. Termasuk“amanah” sesungguhnya merupakan istilah bahasa Arab yang telah mengalami pengindonesiaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ditemukan dua kata yang menunjuk makna “amanah” dalam bahasa Arab, yaitu amanah atau amanat. “Amanah” dapat diartikan sebagai: pesan yang dititipkan kepada orang lain untuk disampaikan; keamanan dan ketenteraman; atau kepercayaan. Sedangkan “amanat” mengandung arti: sesuatu yang dipercayakan atau dititipkan kepada orang lain; bisa berarti pesan, nasihat atau petuah yang baik dan berguna dari orangtua; atau bisa juga bermakna perintah dari atasan atau wejangan dari seorang pemimpin.

Sedangkan dalam bahasa Arab, “amanah” merupakan kata benda dari Amuna-Ya’munu-Amnan wa Amanatan, yang berasal dari akar kata Hamzah, Mim dan Nun. Di dalam Kamus Mu’jam Maqayis al-Lugah disebutkan bahwa kata “amanah” memiliki dua makna, yaitu lawan dari kata “khianat”, yang berarti ketenangan atau ketenteraman hati; dan juga bisa berarti al-tasdiq atau pembenaran.Dari akar kata yang sama dengan amanah, juga muncul kata “Iman” dan “aman”. Artinya, amanah itu terkait dengan keimanan, bahkan keimanan menjadi dasar bagi suatu amanah. Di dalam Musnad Ahmad ibn Hambal Juz III ditemukan hadis لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَه (Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki amanah). Ini pula yang dimaksud Q.S. al-Mu’minun: 1-8 bahwa salah satu ciri orang beruntung adalah Mukmin yang memelihara amanah yang dipikulnya:
Amanah yang berdasar keimanan itu pada gilirannya dapat melahirkan rasa aman dan keamanan. Ragib al-Isfahani dan Farid Wajdi sepakat bahwa amanah itu melahirkan Tu’maninat-un-nafs (ketenteraman jiwa) dan sukun-ul-qalb (ketenteraman hati).

Oleh karena itu, wajar kalau Rasulullah dalam hadis Bukhari menyebutkan bahwa apabila amanah tersia-siakan, tidak ditunaikan, maka akan datang suatu kehancuran yang melahirkan rasa ketidakamanan.

إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ، قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

“Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah saat kehancurannya. Sahabat bertanya : Bagaimana bentuk penyia-nyiaan amanah itu? Rasul menjawab: Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah saat kehancurannya” (H.R. Bukhari).
Amanah menempati posisi strategis dalam syariat Islam, bahkan dalam suatu sistem pemerintahan. Rasulullah yang mendapat gelar Al-Amin, yaitu orang yang terpercaya, menegaskan bahwa amanah menjadi salah satu pembeda kaum muslim dengan kaum munafik. Dalam hadis Muttafaq ‘Alaih, Rasul bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ.

“Tanda-tanda munafik itu ada tiga: apabila bicara, berdusta; apabila berjanji mengingkari; dan apabila dipercaya (amanah), berkhianat”.

Rasulullah sendiri telah memperingatkan kaum Muslim agar tidak sembarangan memberikan amanah (kepercayaan) kepada orang lain, terutama apabila ia adalah sanak familinya. Sabda Rasul: “Barangsiapa yang mengangkat seseorang (untuk suatu jabatan) karena semata-mata hubunganv kekerabatan dan kedekatan, sementara masih ada orang yang lebih tepat dan ahli daripadanya, maka sesungguhnya dia telah melakukan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman” (H.R. al-Hakim).

Lebih jauh, Rasulullah dalam Sahih Muslim Juz III, tidak mau memberikan amanah kepada Abu Dzarr al-Gifari ketika meminta suatu jabatan, bahkan Rasul mengatakan bahwa engkau terlalu lemah untuk posisi tersebut.

عَنْ أَبِي ذَرِّ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أَلاَ تَسْتَعْمِلْنِي؟ قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَ (يَا أَبَا ذَرِّ إِنَّكَ ضَعِيْفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيْهَا).

Dari Abu  Dzarr, ia berkata: Saya berkata kepada Rasulullah, Wahai Rasul, hendaklah engkau memberiku jabatan! Rasulullah kemudian menepuk punggung saya seraya berkata, Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya engkau itu lemah dan sungguh jabatan itu adalah amanah, dan jabatan itu pada hari kiamat hanyalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya secara benar dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya”
Dengan demikian, posisi Islam terhadap amanah ini sangat jelas sekali urgensinya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan berpolitik dan bernegara. Banyak dijumpai dalam al-Qur’an, ayat-ayat yang menyuruh melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya. Dalam Q.S. al-Nisa: 58 misalnya menyebutkan:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.
Meskipun ayat tersebut turun dalam masalah ‘Usman bin Talhah al-Hujubi tentang kunci Ka’bah yang diminta oleh al-‘Abbas agar dia yang memegangnya, kemudian Allah menurunkan ayat tersebut sebagai perintah agar memberikan amanah kepada orang yang berhak, namun menurut Prof. Wahbah al-Zuhaili dalam al-Tafsir al-Wasit Juz I, ayat tersebut tetap berlaku bagi setiap orang agar melaksanakan amanah yang menjadi tanggungannya, baik kepada khalayak maupun kepada individu..

Pada ayat lain, meskipun tidak menggunakan kata kerja perintah secara langsung seperti pada ayat di atas, tetapi tetap mengandung perintah untuk melaksanakan amanah, karena menggunakan fi’il mudari yang disertai huruf lam perintah, yaitu terdapat dalam QS. al-Baqarah: 283.
“Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya”.Demikianlah amanah sangat penting posisinya dalam segala kehidupan manusia, karena tanpa amanah, berbagai macam aturan, undang-undang dan sebagainya tidak dapat terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, wajarlah jika Allah memberikan amanah sebagai suatu bentuk ketaatan. Amanah tidak hanya terkait dengan aspek  diniyah seperti ibadah, tapi juga terkait dengan aspek duniawi seperti jabatan dan kekuasaan. Hal ini terkait dengan kondisi tahun politik 2018 dan 2019, di mana kita dihadapakan pada banyak pilihan calon Gubernur calon presiden dan  Caleg-caleg, yang fose dan fotonya terpampang hampir di setiap sudut jalan protokoler, bahkan di gang-gang sekalipun. Semoga tulisan ini dapat memberi pencerahan bagi kita untuk memilih calon-calon pemimpin bangsa yang amanah, karena kita tidak salah memilih. Ingat! Jika kita tidak memilih pemimpin yang amanah, maka tunggulah saat kehancuran bangsa ini. (AM Jumai, dosen FE Unimus Semarang).