Kompetensi Kegawatdaruratan, Perkuat SDM Perawat

82
MEMAPARKAN – Para pembicara saat memaparkan materi dalam seminar nasional keperawatan yang digelar Profesi Ners Fikkes Unimus di Hotel Muria Semarang, Sabtu (14/10). Foto R01

SEMARANG –Kasus kegawatdaruratan terus berkembang, mulai dari penyempitan pembuluh darah atau kardiovaskuler, jantung, hingga kecelakaan lalu lintas. Seluruh aspek tersebut, membutuhkan penanganan kegawatan. Termasuk peningkatan pelayanan sebelum masuk dan saat di rumah sakit.

“Kita melihat kasus kematian bayi Debora di Jakarta beberapa waktu lalu. Itu akibat dari sistem kegawatan di Indonesia yang belum berjaland dengan baik, sehingga angka kematian kegawatan baik sebelum dan saat di rumah sakit cukup tinggi,”papar Ketua DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jateng DR Edy Wuryanto SKp MKep, dalam seminar nasional keperawatan di Hotel Muria Semarang, Sabtu (14/10).

Diterangkan, dalam ajang yang digelar Prodi Profesi Ners Fakultas Ilmu Keperawatan dan Ilmu Kesehatan (Fikkes) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) tersebut, dirinya melihat perlunya para perawat dibekali dengan kompetensi penanganan kegawatan dari tingkat dasar hingga advance.

“Kemampuan tersebut diperlukan agar perawat dapat secara tepat, dalam memberikan pertolongan sehingga dapat mencegah kematian dan kecacatan. Semua perawat yang ada di rumah sakit atau pun komunitas, harus memiliki kemampuan ini,” tandas pria, yang juga dosen Fikkes Unimus tersebut.

Edy menambahkan, sejauh ini seiring dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAM (MEA), perawat menjadi satu dari tujuh profesi yang bebas keluar masuk antar negara ASEAN. “Perawat Indonesia sangat kompeten, tidak kalah dibandingkan dengan perawat dari negara lain. Hanya saja pengakuan kompetensi secara internasional belum kita miliki. Untuk bisa mendapatkannya, perawat kita harus mengikuti uji kompetensi di Filipina atau Singapura. Ini yang jadi kendala,” tambahnya.

Secercah harapan muncul, seiring dengan terbitnya Perpres No 90/2017 tentang Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia (KTKI). Pihaknya berharap lembaga tersebut dapat menjembatani dalam pengakuan kompetensi internasional terhadap perawat Indonesia. “KTKI ini memiliki tugas dalam memfasilitasi dukungan pelaksanaan tugas konsil masing-masing tenaga kesehatan, sekaligus evaluasi, membina dan mengawasi,”pungkasnya.

Seminar tersebut juga menghadirkan dua pembicara lain, yakni Ketua Ikatan Ners Kardiovaskuler Indonesia (Inkavin) Yogyakarta sekaligus pakar kardiovaskuler RS dr Sarjito Yogyakarta Ns Subroto SKep Mkep, dan pengurus Himpunan Perawat Gawat Darurat Dan Bencana Indonesia (Hipgabi) Jateng sekaligus pakar kegawatdaruratan RSUP Dr Kariadi Semarang Ns Setyo Martono SKep MKep.

Sementara Wakil Rektor II Unimus Dr Sri Rejeki SKp MKep SpMat menambahkan, saat ini kebutuhan perawat di Indonesia masih tinggi. “Sekarang ini ada sekitar 300 ribu perawat, namun jumlah tersebut belum memenuhi seluruh kebutuhan yang ada sehingga tenaga kerja di profesi ini masih terbuka luas,” tandasnya. R01