Warga NU Gelar Khaul Gus Dur Ke-8 di Balaikota

18

SEMARANG – Kebesaran nama seseorang tak dapat diukur hanya pada sejauh mana meniti karir. Akan tetapi lebih dari itu, eksistensinya terus ada meski nyawa telah terlepas dari raganya dan nama sepak terjang dan pemikirannya akan terus abadi.

Demikianlah yang tersirat pada malam Peringatan Khaul KH Abdurrahman Wachid atau yang kebih dikenal dengan sebutan Gus Dur. Bertemakan “Memeluk Pancasila, Mengenang Sang Pluralis”, kegiatan khaul kemarin digelar di Gedung Balaikota Semarang, Jumat (22/12) lalu. Para kader muda NU Kota Semarang pun hadir dan banyak menyuarakan “Gus, Tanpamu, Kita Sekarang Repot”.

Acara diisi dengan tahlilan mendoakan Gus Dur, para tokoh NU dan semua pahlawan yang telah berpulang keharibaan sang pencipta. Sederet acara digelar dengan menarik, mulai pembacaan puisi kebangsaan, testimoni, drama satu babak, dan unjuk kebolehan pencak silat Pagar Nusa.

Ketua PW GP Ansor Jateng, Sholahuddin Aly menyampaikan bahwa Gus Dur sebagai tokoh fenomenal hingga segala yang melekat pada beliau kian menjadi tren. “Gus Dur adalah seorang yang fenomenal, sehingga banyak hal yang sepele pun menjadi populer karena beliau,” Kata Gus Sholah, sapaan akrabnya.

Menurutnya, semua tentunya masih ingat dengan berbagai candaannya, dan salah satunya adalah “gitu aja kok repot”. Malam ini tema dari panitia “Gus, Tanpamu, Lita Semua Repot” menunjukkan betapa bangsa ini gelisah tanpa sosok Gus Dur, sehingga generasi sekarang selalu merindukannya. “Lalu kapan lagi akan muncul seorang tokoh yang seperti beliau?”

Senada diungkapkan Suharmanto, Kasatkorcab atau Kepala Satuan Koordinasi Cabang Banser Kota Semarang bahwa dirinya juga turut memberikan testimoninya dengan singkat, mengenang Gus Dur tentunya mengingat pancasila dan tugas menjaga negara yang bhineka tunggal ika ini. “Gus Dur adalah tokoh pluralisme. Semuanya dirangkul sebagai perwujudan negara yang bhineka tunggal ika ini. Manuvernya banyak dan sulit ditebak. Beliaulah presiden yang paling antik dan tiada duanya,” ungkapnya dan dilanjutkan beberapa tokoh muda NU dan tamu undangan juga turut memberikan testimoni secara bergantian. (04)