Ganjar Dengarkan Keluh Kesah Nelayan di Rembang

40
BERBINCANG - Calon gubernur petahana Ganjar Pranowo saat berdialog dengan ratusan nelayan, dalam masa kampanye Pilgub Jateng di Kabupaten Rembang, Jumat (16/2).

REMBANG – Hari kedua masa kampanye Pilgub Jateng, calon gubernur petahana Ganjar Pranowo memilih menyisir pesisir Kabupaten Rembang, Jumat (16/2). Dalam kesempatan tersebut, politisi PDI Perjuangan ini berbincang santai dengan ratusan nelayan.

Mereka berdiskusi berbagai persoalan yang saat ini masih dihadapi para nelayan. Tidak hanya itu, dalam kesempatan tersebut para nelayan juga meminta Ganjar, agar tetap menjadi pengayom dan pelindung nelayan Jateng.

“Beberapa persoalan kita hadapi diantaranya lemahnya penegakan hukum, terhadap oknum nelayan yang menggunakan alat tangkap jaring trawl atau sotok. Kami berharap agar pak Ganjar ada solusi terhadap persoalan tersebut. Sotok ini sangat merusak biota laut, bahkan mulai dari telur hingga ikan yang ada di atas terangkut semua. Jika ini terus terjadi, bukan tidak mungkin kami akan melakukan razia sendiri terhadap mereka,”papar Koordinator Nelayan TPI Tanjungsari Rembang Sugeng Mulyadai, disela obrolan.

Di Rembang, lanjutnya, pengguna sotok terus merajalela hingga merugikan nelayan lain. “Sotok itu sudah dilarang sejak 1980, tapi sampai saat ini masih banyak yang menggunakan. Kami berharap penggunanya ditangkap dan dihukum agar jera. Jangan cuma ditahan sehari trus dilepaskan,” ungkapnya.

Selain soal sotok, dia juga meminta perhatian soal kebutuhan nelayan yang menginginkan pembangunan dermaga. “Dermaga yang ada hanya untuk kapal besar. Sementara untuk kapal kecil tidak bisa bersandar, sehingga nelayan harus jalan dengan air sedada untuk mengambil perahu,” kata Sugeng.

Menanggapi aspirasi nelayan, Ganjar mengungkapkan peraturan daerah juga melarang penggunaan sotok di laut. “Ini kan tinggal penegakan hukum, nanti kita teruskan ke aparat. Kan biar fair juga tata cara pengambilan ikan itu bagaimana, ada regulasi yang mengatur,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, dirinya juga menilai bahwa para nelayan juga membutuhkan kemudahan akses permodalan serta perizinan. Mengenai perizinan, dia berharap ada reformasi birokrasi karena saat ini segala proses diurus di pusat. Dia menilai lebih baik sebagian pengurusan perizinan pindah ke daerah, agar nelayan tidak kesulitan.

“Jangan lupa,  pendataan nelayan juga termasuk hal penting yang tidak boleh dilupakan. Nanti kira geser Kartu Tani menjadi Kartu Nelayan. Tujuannya untuk mengetahui pasti jumlah nelayan di Jateng. Harapannya, dengan diketahuinya jumlah nelayan sesuai klasifikasinya, mulai dari 5GT hingga lebih dari 30GT maka bisa disusun kebijakan yang tepat, termasuk soal subsidi.

Sebelum dialog dengan nelayan, Ganjar Pranowo bersama pasangannya, calon wakil gubernur Taj Yasin berkunjung ke rumah KH Musthofa Bisri di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Kabupaten Rembang.

Kebetulan setiap Jumat, Gus Mus menggelar pengajian di pondoknya. Ganjar dan Gus Yasin pun mengikuti sampai selesai, dilanjutkan dengan ngobrol ringan. Namun kunjungan tersebut sama sekali tidak membicarakan perihal pilkada, melainkan UU MD3 tentang MPR, DPR, DPRD, dan DPD