Nothing is Meaningless, Ekspresi Spiritual Deny Renanda Putra

    88
    Seniman Deny Renanda Putra, diantara sejumlah karyanya, yang dipamerkan dalam art exhibition ‘Nothing is Meaningless’di Nima Art Space, Jalan Banaran Raya No 113 Sekaran, Gunungpati.

    Kegelisahaan dalam hal penciptaan tetapi tetap melakukan pengolahan, menjadikan beragam karya seni rupa seniman Deny Renanda Putra, penuh dengan luapan emosi dan ekspresi.  Memfokuskan tentang penggambaran kejiwaannya, pria kelahiran Wonosobo ini mengekpresikan karya dengan tujuan mengkomunikasikan tentang ‘ego’ dirinya.

    Mengusung aliran abstrak ekspresionisme,  yang terangkum dalam ‘Nothing is Meaningless’, puluhan karya mahasiswa Unnes tersebut dipamerkan dalam art exhibition yang digelar di Nima Art Space, Jalan Banaran Raya No 113 Sekaran, Gunungpati.

    Penikmat seni diajak untuk tidak hanya melihat secara visual, namun juga pesan dibalik karnya tersebut. Misalnya karya berjudul ‘Dimana Merah?’, enam lukisan dengan media kertas dengan tinta cina tersebut justru menampilkan guratan-guratan warna hitam. Tidak ada warna merah didalamnya.

    Karya tersebut hasil dari karkulasikan warna aura yang dilakukan pelukis. Dengan kata lain, emosi yang meluap-luap meskipun menggunakan warna hitam, justru “merah”-lah yang terasa. Paradoks ini yang ingin ditampilka Denso,panggilan akrab Deny Renanda Putra dalam karya Di Mana Merah. Pengunjung pun diajak bercengkrama untuk menebak di manakah hakikat sebuah warna merah.

    Luapan ekpresi juga tergambar dalam lukisannya berjudul Red.  Didominasi warna merah dan hitam, sebagai representasi diri pelukis yang berani dan cenderung berterus terang dalam bersikap. Ego-nya mengirim pada imajinasi ke-aku-an, dalam bentuk guratan mahkota tentang uji kekuasannya, tentang figur manusia yang berdiri menentang, dalam balutan pigura putih rapih dan tertata.

    “Dari sudut pandang tersebut, dapat terkilas bahwa tidak ada yang tidak berharga sama sekali dalam proses kesenian. Ketersinambungan antara greget, kontrol, dan ketidak-terkontrolannya justru menjadi proses yang seakan tak sengaja itu khidmat,” papar dosen Unnes sekaligus kurator dalam pameran tersebut, Rahman Athian, disela pameran.

    Diterangkan, Nothing is Meaningless adalah sebuah analogi untuk melihat bentuk paradoksal ini, tidak ada satupun yang tidak ada harganya, semua memiliki nilai. “Mungkin bagi sebagian orang tak terbaca, tak ternilai, tak dihendaki, karena proses pembuatannya cenderung tidak terkontrol. Namun bagi yang lain, termasuk karya Denso, karya-karyanya ini merupakan sebuah proyeksi perjalanan spiritual berupa karya kontemplatif yang bahkan tak ternilai harganya,” tandasnya.

    Athian menilai mudah menemukan seniman yang ideal, yaitu mereka yang memiliki keingingan bereksplorasi, kemampuan mengekspresikan rasa dan memiliki tujuan yang jelas dalam berkesenian serta memahami kondisi medan sosial yang digelutinya.

    “Saya melihat sosok Denso yang masih muda, justru tekun meniti dan mengeksplorasi seni, dengan bentuk abstrak ekspresionisme. Patut kita semua sadari bahwa, Neo-abstrak ekspresionisme hadir atas perlawanan para seniman terhadap seni minimalis dan konseptual di era postmodern, kemudian masa tersebut seharusnya telah luntur pasca ditelan bulat-bulat oleh makhluk waktu bernama kontemporer. Garis bawah besar saya coba berikan, saat menekan kata spiritual dalam beberapa karya yang dihasilkannya,” terangnya.

    Sementara, sang perupa, Denso mengaku karyanya adalah ‘dia’, yang lahir dari sebuah masalah baik kegelisahan ataupun alasan lainnya. “Jika seorang perupa mengalami kebingungan dan gelisah dalam hal penciptaan, tetapi tetap melakukan pengolahan baik media maupun rasa. Itu adalah hal baik yang menurut saya,” terangnya.

    Menurutnya, dunia seni rupa bebas dan luas, bahkan rasa bingung dan gelisah akan sesuatu, mampu mendorong seniman melakukan sebuah gerakan dalam hal berkarya atau penciptaan karya seni. “Ini yang membuat seseorang perupa selalu mengalami efek kejut, dari apa yang mereka lakukan saat proses penciptaan,”pungkasnya.

    Pameran tersebut dapat dinikmati dan terbuka bagi umum di Nima Art Space, hingga 11 April mendatang mulai pukul 13.00 WIB – 19.00 WIB. Selain lukisan, juga ada sejumlah karya instalasi seni rupa yang turut ditampilkan. R01