Membangun Karakter Bangsa Mencegah Perpecahan NKRI

73
MEMAPARKAN - Rektor Unimus Prof Dr Masrukhi MPd saat memaparkan materi dalam dialog interaktif ‘Membangun Karakter Bangsa, Mencegah Perpecahan NKRI Menuju Pemilu 2019 Aman dan Damai’ di Patra Jasa Convention Semarang, Kamis (11/10).

SEMARANG – Bagi kelompok Islam politik trans nasional ,menegakkan sistem pemerintahan Islam dan penerapan syariat Islam merupakan suatu kewajiban. Dua tujuan politik ini harus diperjuangkan, meskipun ambisi tersebut harus berakhir dengan kehancuran negara.

“Inilah barangkali catatan mengerikan yang bisa kita lihat dari perkembangan Islam politik di negara-negara Timur Tengah seperti Tunisia, Libia, Irak, Syria dan Yaman. Jika tidak diwaspadai, kondisi gerakan Islam politik trans nasional di Indonesia, akan melaju kencang tanpa kontrol dan perlahan-lahan menabrak apa saja. Termasuk menabrak konstitusi, menabrak falsafah bernegara, menabrak sistem politik serta menabrak islam sendiri, sebagai agama dan norma yang moderat,” papar Wakil Rais Syuriah NU Jateng KH Fadlolan Musyaffa Mu’thi, dalam dialog interaktif ‘Membangun Karakter Bangsa, Mencegah Perpecahan NKRI Menuju Pemilu 2019 Aman dan Damai’ di Patra Jasa Convention Semarang, Kamis (11/10).

Lebih lanjut, dalam kegiatan yang digelar Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) tersebut, dirinya menilai ditengah kekeringan wacana keagamaan yang moderat dan humanis, maka tak ada salahnya untuk kembali pada cara pandang guru bangsa, Gus Dur, dalam mengharmoniskan hubungan antara agama dan negara. “Gus Dur membawa agama melalui tiga pendekatan yang sangat luas dan fleksibel. Pertama, pendekatan filosofis, makna dari agama itu sendiri. Tidak sekedar teks dari agama itu. Kedua, etis. Agama ditampilkan sebagai nilai-nilai kesopanan universal dan ketiga, humanis. Menghadirkan agama sebagai persaudaraan kemanusian yang utuh,” tandasnya

Sementara, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jateng Dr H Rozihan memaparkan , masalah kehidupan bernegara tidak luput dari perhatian Islam untuk mengaturnya, setidak-tidaknya dalam bentuk penetapan kaidah-kaidah (qawa’id) dan prinsip-prinsip (mabadi’) bagi penyelenggaraan kehidupan bernegara yang baik. “Cita keadilan merupakan nilai paling strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini terutama berkait dengan dua hal, yakni keadilan dalam law enforcement (iqamah al-hukm wa al-qanun). Serta, keadilan dalam rekrutmen pejabat atau aparat publik atas dasar prinsip tawsid al-amr ila ahlih (the right man in the right place),” tandasnya.

Selain keduanya juga hadir sebagai pembicara yakni Rektor Unimus Prof Dr Masrukhi MPd, serta Ketua Bawaslu Jateng Fajar SAKA. Dalam sambutannya, Prof Masrukhi berharap kegiatan tersebut mampu memberi wawasan dan pengetahuan kepada peserta, tentang upaya pembentukkan karakter bangsa dalam mencegah perpercahan NKRI. Kegiatan diikuti sekitar 200 peserta, dari beragam unsur mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, pesantren, BEM di kota Semarang, organisasi mahasiswa dan kepemudaan. R01