Pentaskan Palguna Palgunadi, Dua Dalang Muda UPGRIS Pukau Penonton

36
PENTAS – Dua dalam muda yang juga mahasiswa PBSD FPBS UPGRIS unjuk gigi dalam peringatan Hari Wayang Sedunia, dengan membawakan pentas wayang kulit lakon Palguna Palgunadi di kampus IV, Jalan Gajah Raya Semarang, Senin (5/11)

SEMARANG – Suara musik gamelan terdengar di kampus IV UPGRIS Jalan Gajah Semarang, Senin (5/11) petang. Geber panjang dengan sederet tokoh pewayangan pun hadir didalam kampus. Sore itu, dua dalang muda yang juga mahasiswa UPGRIS yakni Purbo Asmoro Jati dan Ivan Haviz Widyantara berkolaborasi dalam satu panggung untuk memainkan lakon Palguno Palgunadi.

Pentas itu juga menjadi bagian dari peringatan Hari Wayang Sedunia 2018, yang diperingati setiap 7 November. “Lakon Palguno Palgunadi ini berceritakan tentang pertarungan antara Raden Arjuna alias Palguna melawan Prabu Ekalaya alias Palgunadi, sesama murid Resi Druna. Juga dikisahkan tentang kesetiaan Dewi Angraeni yang memilih bunuh diri menyusul suaminya, Palgunadi daripada menjadi istri Arjuna. Sementara pesan moral yang ada dalam lakon adalah unrtuk menghormati sesama, dan mengabdi kepada negara,”papar Ivan Haviz Widyantara, usai pementasan.

Dipaparkan, setiap lakok pewayangan ada cerita dan pesan moral tersendiri yang ingin disampaikan kepada penonton. Jadi tidak hanya sekedar tontonan yang menghibur. “Setiap lakon dan tokoh ada pesan tersendiri, ini yang mendorong saya untuk lebih tahu tentang pewayangan dan menerjuni dunia dalang,” katanya mahasiswa semerter III ini.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) UPGRIS ini mengaku, tidak ada kesulitan untuk memainkan lakon meski harus berduet dengan dalang lainnya. Sebelumnya lanjut Ivan, untuk menjaga kekompakan dengan dalang muda Purbo, keduanya harus berlatih kurang lebih selama satu bulan. “Untuk melatih kekompakan, kapan giliran kita masing-masing bermain, sudah latihan dulu dan ada pembagian naskahnya, jadi harus kompak dan konsentrasi saja ketika memainkan lakon,”tambahnya.

Sementara, Dekan FPBS UPGRIS, Dr Asropah mengatakan jika pagelaran wayang kulit dua dalang tersebut merupakan sebuah inovasi dan kolaborasi yang dilakukan fakultas untuk mengenalkan budaya Jawa kepada generasi muda khususnya mahasiswa. “Kedua dalang ini masih aktif kuliah di prodi PBSD. Mereka coba berkolaborasi dalam satu panggung dalam satu lakon,” terangnya.

Selain dalang, lanjut Asropah pageleran wayang kulit kolaborasi dua dalang untuk memperingati Hari Wayang Sedunia ini, juga menghadirkan tim pengrawit serta sinden yang semuanya juga mahasiwa Upgris. “Kami ingin menularkan dan terus nguri-uri budaya serta bahasa Jawa kepada para mahasiswa agar bisa eksis, apalagi kalau yang main masih mahasiswa diharapkan bisa ada ketertarikan untuk belajar,” jelasnya.

Menurut dirinya, di era digitalisasi dan kecanggihan teknologi saat ini, banyak mahasiswa ataupun generasi muda yang kehilang identitas bangsa salah satunya budata. Asropah menilai jika, lunturnya identitas bangsa ini lantaran para generasi muda belum tahu dan belum mengenal budayanya. “Misalnya wayang kulit, mereka hanya tahu sebatas kulit ari bukan sampai dalamnya. Padahal wayang punya sifat adiluhung, dimana harus dilestarikan oleh generasi muda,”pungkasnya. R01