Tim Pengabdian Undip Aplikasikan Pemanas Uap pada UKM Soun di Klaten

75

SEMARANG – Dosen memiliki kewajiban dalam melaksanakan tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Hal tersebut mendasari, tim pengabdian Undip terdiri dari Prof Dr Mohamad Djaeni, Ari Wibawa Budi Santosa ST MT dan Ir Muchtar Hadiwidodo MSi, dibantu mahasiswa Febiani Dwi Utari dan Fauzan Irfandi, ,melakukan pendampingan UKM di Desa Daleman Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten.

“Wilayah tersebut merupakan salah satu sentra industri soun (sohun) di wilayah Jateng. Tidak kurang dari 25 unit usaha sohun di desa ini, masih eksis dan mampu menyerap tenaga kerja sekitar 150 orang. Sohun atau soun merupakan sejenis mie putih berbahan dasar tepung aren. Tepung ini diperoleh dari bagian tengah pohon aren yang sudah tua dan tidak produktif. Setelah melalui pengilingan dan ekstraksi dengan air, akhirnya diperoleh tepung aren dengan warna coklat muda seperti pati ganyong,”papar Prof Dr Mohamad Djaeni di kampus Undip Tembalang, Kamis (15/11).

Diterangkan, tepung yang berwarna coklat ini kemudian diputihkan untuk kemudian dibuat soun melalui proses pencampuran dengan air, pemasakan, pencetakan menjadi seperti senar atau serat besar, serta pengeringan. “Dari pengamatan dan kunjungan yang kita lakukan, ada beberapa permasalahan yang perlu mendapat penanganan. Antara lain, ketersediaan bahan baku kayu aren yang harus didatangkan dari daerah lain, proses pemasakan adonan yang kurang efesien, serta penanganan limbah ampas kayu dan kulit kayu aren,” terangnya.

MENINJAU – Tim pengabdian Undip terdiri dari Prof Dr Mohamad Djaeni, Ari Wibawa Budi Santosa ST MT dan Ir Muchtar Hadiwidodo MSi, dibantu mahasiswa Febiani Dwi Utari dan Fauzan Irfandi, melakukan pendampingan UKM di Desa Daleman Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, kemarin.foto dok

Mengacu pada kendala tersebut, tim pengabdian Undip melakukan pendampingan dengan memberikan alih teknologi, berupa rancang bangun boiler untuk membangkitkan uap air bertekanan sedang. Uap air ini digunakan sebagai medium pemanas pada unit pencampuran adonan, sehingga proses pemasakkan menjadi cepat, dan tangki pencampur adonan menjadi bersih. “Selama ini UKM melakukan pemasakkan adonan menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu, sehingga tangki kontak langsung dengan api pembakaran kayu. Akibatnya adalah tangki menjadi cepat menghitam dan kurang awet, ruang kerja menjadi penuh asap, dan proses pemasakkan lebih lama,” terang , Ari Wibawa Budi Santosa ST MT, anggota tim lainnya.

Dijelaskan, setelah melalui diskusi dengan pelaku UKM soun, pihaknya merancang unit boiler dengan kapasitas air dalam tangki 200 liter. Sebagai media pemanas digunakan furnace berbahan bakar kayu bercerobong tinggi, yang diletakkan di luar ruangan kerja. Penggunaan uap air ini, memungkinkan proses pemasakkan tidak lagi menggunakan tungku kayu secara langsung, karena uap air dari boiler langsung dikontakkan dengan adonan yang terdiri dari air dan tepung.

“Hasilnya, proses pemasakkan dapat lebih cepat dari semula 1 jam menjadi 40 menit. Sementara itu, penggunaan kayu juga lebih efesien, karena panas yang terbuang dapat diminimalkan oleh dinding furnace, sehingga ada penghematan bahan bakar kurang lebih 20%. Adanya penghematan proses produksi ini maka biaya produksi dapat ditekan, sehingga keuntungan UKM secara total dapat meningkat. Ini tentu sangat membantu para pelaku usaha dalam mengembangkan bisnis,”pungkas anggota tim, Ir Muchtar Hadiwidodo MSi. Rix