Era Digital Ciptakan Generasi Alfa

52
KKN MAHASISWA: Dosen UPGRIS Dini Rakhmawati, menyampaikan penyuluhan sehubungan pelaksanaan KKN Mahasiswa di Kelurahan Pedurungan Kidul Kecamatan Pedurungan Sabtu (9/2).

SEMARANG-Era digital menciptakan generasi anyar dengan istilah Alfa. Terbentuknya generasi ini diakibatkan kehadiran teknologi informasi yang sebegitu masif.

Dosen Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Dr Dini Rakhmawati, mengemukakan generasi Alfa memiliki kharakteristik sangat berbeda. Pengalamannya tidak serupa dengan generasi di atasnya apalagi orang tua mereka.

”Generasi ini lahir dengan pengalaman yang sungguh berbeda. Kemana-mana membawa ponsel cerdas, seperti takut ketinggalan informasi. Mereka lahir seiring dimulainya era teknologi modern,” jelas dia Sabtu (9/2).

Perempuan berhijab itu ditemui di sela memberikan penyuluhan  sehubungan pelaksanaan KKN mahasiswa di Kelurahan Pedurungan Kidul  Kecamatan Pedurungan. Kegiatan pendampingan dan pemberdayaan masyarakat ini turut dihadiri Lurah Pedurungan Kidul Purnomo.

Adapun acara dipusatkan di Gedung Taman Kanak-Kanak dan Kelompok Bermain Mekar Jaya. Hadir pula Dosen Prodi Bahasa Inggris UPGRIS Sri Wahyuni, orang tua, dan sejumlah elemen masyarakat.

Ditambahkannya ciri generasi ini juga aktivitasnya yang lebih banyak bersentuhan dengan berbagai permainan di abad digital. Teknologi informasi  bagian tak terpisahkan dari mereka.

Kondisi ini yang akhirnya mempengaruhi tingkat kecerdasan dan proses berpikir anak. Generasi  zaman now  bahkan terkesan sangat transformatif.

Walau begitu lahir di era kemajuan teknologi bukan berarti tidak terdapat permasalahan. Teknologi modern bahkan bisa menghancurkannya apabila tanpa disertai pendampingan dan pemahaman yang benar.

Menurutnya dia mendidik yang tepat generasi milenial adalah mengarahkan untuk tidak terlalu kecanduan teknologi informasi. Apalagi  jika teknologi hanya digunakan untuk alat memuaskan diri semata.
Misalnya berselancar di dunia maya sekadar main game, media sosial, atau bahkan mencari konten  yang tidak bermanfaat.

Lurah Purnomo mengakui pendidikan harus melibatkan tanggungjawab orang tua. Utamanya, membantu mendampingi, mengawasi, dan memberikan teladan yang baik. (11-Red)