YSBJ Kanthil & STIEPARI Semarang Gelar Seminar Nasional Kaji Komunitas Samin

13
Prof Dr Soetomo WE didampingi Renny Apriliani dan panitia seminar nasional mengkaji budaya masyarakat Samin

SEMARANG- Perilaku bersahaja komunitas Samin yang masih memegang teguh tradisi leluhur, sangat menarik dicermati. Komunitas ini banyak tinggal di wilayah Pegungungan Kendeng Utara Pati, sebagian juga berada di daerah Blora.
Sikap mereka yang selalu menjunjung tinggi kejujuran kerap dipertentangkan dengan kondisi zaman sekarang. ”Sebagai pemerhati Budaya Jawa kami menilai prinsip yang dipegang teguh saudara-saudara Komunitas Samin ini layak dihormati. Sesepuh mereka sudah menanamkan prinsip ini dengan meneladani tokoh pewayangan Prabu Puntadewa. Pilihan menjunjung tinggi kejujuran itu sejalan keinginan untuk tidak mengingkari hati nurani ,” tutur Pengurus Yayasan Studi Bahasa Jawa (YSBJ) Kanthil Prof Dr Soetomo WE, Kamis (14/3/2019).
Dia ditemui disela-sela persiapan seminar nasional untuk mengkaji sekaligus membedah perilaku kaum Samin yang masih sangat peduli tradisi leluhur meski zaman telah berganti dengan tajuk, Budaya Samin pada era revolusi industri 4,0. Forum ini rencananya berlangsung 4 April 2019 mendatang dengan mengundang guru besar, pakar ilmu budaya, sosiolog, peneliti, mahasiswa S1 dan S2.
Forum kerja sama Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Pariwisata (STIEPARI) Semarang dan YSBJ Kanthil ini juga akan dibuka oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Soetomo menambahkan leluhur komunitas ini yakni Samin Surosentiko dikenal sebagai pribadi yang unik. Kendati demikian dia sejatinya nasionalis dan mengajarkan kesederhanaan di tengah pengikutnya. Sosok ini hidup di era kolonialisme yang sikapnya dalam menentang penjajahan tidak pernah ditunjukkan dengan model kekerasan.
”Perilakunya yang jujur, tidak pernah menggangu orang apalagi merusak lingkungan begitu mendapat tempat di mata pengikutnya. Saya begitu terkenang dengan kesederhanaan dan kejujuran mereka ketika muncul penelitian yang menyebutkan masyarakat Samin tidak pernah kelaparan di tengah krisis pangan era penjajahan maupun massa berikutnya,” imbuh Soetomo.
Alasan ini juga yang menjadikan pihaknya tergelitik untuk membedah betapa kaum Samin masih bisa bertahan hidup dengan kesahajaan dan mempertahankan tradisi leluhur. Terlebih sejarah anyar kini menciptakan era digitalisasi teknologi yang hampir merubah semuatatanan kehidupan. tie