Cegah Kanker Serviks dengan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)

143
Nita Ardiani Hasanah

KANKER serviks menjadi penyebab kematian wanita nomor dua di dunia, diperkirakan sekitar 7,5 juta wanita meninggal. Prevalensi angka kejadian kanker serviks di Indonesia 16 per 100.000 perempuan, dan sekitar 12,8% pasien rawat inap di rumah sakit seluruh Indonesia dikarenakan menderita kanker serviks.
Kanker serviks dimulai pada lapisan serviks yang terjadi secara perlahan, sel normal berubah menjadi sel-sel prakanker lalu menjadi sel kanker dimana perubahan ini disebut dengan displasia dan biasanya terdeksi dengan tes IVA atau pap smear. Kanker serviks pada stadium awal tidak menunjukkan gejala. Namun gejala akan muncul saat sel kanker servik sudah menyerang jaringan di sekitarnya, gejala yang muncul berupa perdarahan pervaginam abnormal, keputihan tidak normal dengan lender kental, berwarna kehijauan atau kecoklatan, berbau busuk, gatal, dan rasa sakit saat bersenggama.
Diduga Human Papiloma Virus (HPV) sebagai penyebab utama kanker servik. Namun ada beberapa faktor resiko yang dapat meningkatkan peluang terkena kanker servik seperti wanita yang merokok memiliki risiko dua kali lebih besar dari pada wanita yang tidak merokok, kemudian penggunaan kontrasepsi hormon dalam waktu lebih dari lima tahun dapat meningkatkan risiko kanker serviks. Dan faktor keturunan akibat mutasi gen yang menjadi penyebab kanker serviks yang diturunkan ke generasi selanjutnya.
Hal ini masih menjadi kekhawatiran terbesar bagi wanita mengenai status kesehatan dirinya, sedangkan tes IVA sekarang ini lebih mudah akses dan difasilitasi pihak pemerintah khususnya oleh Dinas Kesehatan agar masyarakat dapat terskrinning secara optimal. Tes IVA dapat dilakukan di fasilitas kesehatan seperti, Puskesmas, Rumah Sakit maupun Klinik .
Tes IVA sebagai pendeteksi pertama kanker serviks, dimana tes ini menggunakan asam asetat atau asam cuka dengan kadar 3-5 persen, yang kemudian diusapkan pada mulut rahim. Setelah itu, hasilnya akan langsung diketahui apakah dicurigai adanya kanker serviks atau tidak. Ketika jaringan mulut rahim memiliki sel kanker akan berubah menjadi putih atau bahkan mengeluarkan darah ketika diberikan asam asetat.
Pemeriksaan ini dianggap pemeriksaan awal yang efektif dan murah untuk mendeteksi kanker serviks. Pasalnya, tidak dibutuhkan waktu lama dan pengamatan laboratorium untuk mengetahu hasilnya. Selain itu, kelebihan test IVA lainnya adalah pemeriksaan ini aman dilakukan kapan pun. Syarat melakukan pemeriksaan tes IVA antara lain wanita yang pernah melakukan hubungan seksual, wanita terebut tidak dalam keadaan datang bulan atau haid, tidak dalam keadaan hamil, tidak menggunakan sabun pencuci vagina dan tidak melakukan hubungan seksual sebelum dilakukan tes.
Kurangnya kunjungan untuk melakukan deteksi dini kanker serviks dengan tes IVA, bisa disebabkan kurangnya informasi mengenai tes IVA sehinga dapat menimbulkan rasa takut untuk melakukan pemeriksaan IVA. Selain itu rasa takut untuk melakukan tes, juga karena takut akan hasil tesnya yang menunjukkan hasil positif. Jika dilakukan tes IVA sebagai deteksi dini untuk mengetahu adanya kanker serviks pada diri kita, maka dapat dilakukan penanganan segara agar sel kanker tidak cepat menyebar dan tidak terjadi kerusakan ke organ tubuh yang lain.
Maka dari itu disarankan setiap wanita sedini mungkin untuk melakukan tes IVA agar kanker dapat dideteksi sedini mungkin sehingga angka kesakitan dan kematian wanita akibat kanker serviks di Indonesia dapat ditekan dan kesejahteraan wanita bisa terjamin. tie
Penulis Nita Ardiani Hasanah
Mahasiswa Prodi Sarjana Profesi Kebidanan, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Jawa Tengah