Kearifan Lokal Komunitas Samin Jadi Pijakan di Era Revolusi Industri

39
Sejumlah narasumber dalam seminar Budaya Samin pada era revolusi industri 4,0, yang digelar Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata Indonesia (Stiepari) dan Yayasan Studi Bahasa Jawa (YSBJ) Kanthil.

SEMARANG-Budaya komunitas masyarakat Samin, perlu dilestarikan. Di era revolusi industri 4,0 ini, menurut Ketua Yayasan Tri Viaca Semarang, Prof Dr Y Sutomo MM yang membacakan sambutan Gubernur Jateng, teknologi bisa lebih mengukuhkan budaya lokal.
Caranya dengan mengembangkan potensi lokal yang ada, namun tanpa meninggalkan kearifan yang ada. ”Kearifan adat dan budaya yang ada di tengah kehidupan modern. Masyarakat Samin, selama ini lebih fokus pada sektor pertanian. Sehingga bisa ditata dan dikembangkan, untuk dipromosikan pada wisatawan lokal dan internasional,” jelasnya, Kamis (4/4), di Hotel Grasia, Semarang.
Dia mengatakan dalam Seminar nasional bertajuk Budaya Samin pada era revolusi industri 4,0, yang digelar Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata Indonesia (Stiepari) dan Yayasan Studi Bahasa Jawa (YSBJ) Kanthil. Acara dimoderatori oleh Ketua Stiepari Dr Samtono. Juga dihadiri sejumlah dosen dan mahasiswa.


Hadir sejumlah nara sumber, termasuk tokoh Sedulur Sikep, Gun Retno. Menurutnya, selama ini sedulur Sikep sudah mandiri dalam hal ekonomi. Bahkan tak sedikit ajaran bermasyarakat dan berkehidupan dari sejumlah sektor, yang bisa ditransfer untuk masyarakat lain. Di antaranya, terkait dengan kemandirian dan kejujurannya. Termasuk dalam menentang kebijakan yang tidak berprinsip kearifan lokal dan mencederai keluhuran budaya lokal. Maka, pihaknya akan melakukan penolakan demi terjaganya kearifan lokal.
Istilah masyarakat Samin tak bisa lepas dari Samin Surosentiko yang hidup tahun 1859 – 1914, yang ikut berjuang melawan penjajah. Ajaran-ajarannya tersebar tidak hanya di daerah Blora, tetapi juga Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Madiun, Jember, Banyuwangi, Purwodadi, Pati, Rembang, Kudus, Brebes, dan lainnya.
Sementara itu, Rohmat Djoko Prakoso, pakar dan ahli budaya mengatakan, kepribadian Samin adalah lugu, bersahaja, mempertimbangkan alam sebagai ibu peradaban merupakan dasar kepribadian yang kokoh dalam bermasyarakat. Perilakunya pun menjunjung tinggi harmoni baik dalam konteks vertikal maupun horisontal.
Pengurus YSBJ Prof Dr Soetomo WE mengatakan, perilaku bersahaja komunitas Samin memegang teguh tradisi leluhur. Sehingga prinsip-prinsip hidup mereka yang baik itu, perlu diteladani dan dihormati. tie