Minum Jahe Hangat Kurangi Mual dan Muntah pada Ibu Hamil

30
Alfu Izzatil Munna

KEHAMILAN menyebabkan perubahan fisik, psikis dan hormonal pada tubuh ibu. Hal tersebut menimbulkan bermacam-macam keluhan, salah satunya adalah mual muntah atau morning sickness yang biasa terjadi pada awal kehamilan. Mual dan muntah merupakan salah satu gejala paling awal, paling umum dan paling menyebabkan stress yang dikaitkan dengan kehamilan. Hampir 50-90% wanita hamil mengalami mual muntah pada trimester pertama.
Mual dan muntah seringkali diabaikan karena dianggap sebagai sebuah konsekuensi diawal kehamilan tanpa mengikuti dampak hebat yang ditimbulkan pada wanita. Dari kebanyakan wanita hamil yang mengalami morning sickness atau yang lebih di kenal dengan mual di pagi hari, akan mengalami perubahan pada hormon progesteron dan esterogen yang ada dalam tubuh meningkat karena diproduksi Human Chorionic Gonadotropine (HCG) dalam serum plasenta, hal itulah yang menyebabkan mual di pagi hari pada kehamilan trimester pertama. Tetapi frekuensi terjadinya morning sickness tidak hanya di pagi hari melainkan bisa siang bahkan malam hari. Separuh dari wanita hamil pasti akan mengalami mual muntah hanya karena mencium bau makanan tertentu.
Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primi gravida dan 40-60% multi gravida. Sebagian besar ibu hamil 70-80% mengalami morning sickness dan sebanyak 1-2% dari semua ibu hamil mengalami morning sickness yang ekstrim. Dalam penelitian menjelaskan bahwa didapatkan 20 ibu hamil trimester pertama yang mengalami morning sickness. Sebanyak 12 ibu hamil primigravida mengalami mual muntah sejak awal kehamilan, dengan frekuensi 2-3 kali sehari dengan disertai gangguan nafsu makan. Sebanyak 8 ibu hamil multigravida mengalami morning sickness, dengan frekuensi mual muntah 1-3 kali sehari tanpa disertai gangguan nafsu makan. Perubahan hormon pada setiap perempuan hamil responnya akan berbeda, sehingga tidak semua mengalami mual muntah pada kehamilan.
Mual dan muntah pada kehamilan biasanya bersifat ringan, kondisi tersebut terkadang berhenti pada trimester pertama, namun pengaruhnya dapat menimbulkan gangguan nutrisi, dehidrasi, kelemahan, penurunan berat badan, dan ketidakseimbangan elektrolit. Mual dan muntah berlebih (hiperemesis gravidarum) tidak hanya mengancam kehidupan ibu hamil, namun juga dapat menyebabkan efek samping pada janin seperti abortus, bayi lahir rendah, kelahiran prematur, serta malforasi pada bayi baru lahir. Kejadian pertumbuhan janin terhambat (Intrauterine growth retardation/IUGR) meningkat pada wanita hamil dengan hiperemesis gravidarum. Mengatasi mual muntah selama masa kehamilan dapat dilakukan melalui tindakan farmakologi maupun non farmakologi. Tindakan non farmakologi yang biasa disarankan oleh tenaga kesehatan seperti menganjurkan ibu hamil untuk mengkonsumsi jahe dalam bentuk teh jahe, minuman jahe, permen, biskuit jahe, teknik relaksasi, dan aromaterapi.
Jahe adalah tanaman banyak khasiat, bagian rimpang jahe bermanfaat diantaranya sebagai bumbu masak, minuman, permen serta digunakan dalam ramuan obat tradisional. Aroma harum jahe dihasilkan oleh minyak atsiri pada jahe yang mempunyai efek menyegarkan dan memblokir muntah, rasa pedas yang menghangatkan tubuh yang dapat mengeluarkan keringat, dan gingerol dapat melancarkan darah dan saraf-saraf bekerja dengan baik. Didalam jahe terdapat kandungan yang dapat menjadi penghalang serotinin penyebab mual dan muntah.
Berdasarkan hasil penelitian disebutkan bahwa sebelum diberi intervensi rata-rata responden mengalami frekuensi mual muntah sebanyak 13 kali dalam sehari, setelah diberi intervensi minuman jahe hangat rata-rata frekuensi mual muntah menurun menjadi 3,18 kali dalam sehari. Dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa minuman jahe hangat memberikan pengaruh terhadap penurunan frekuensi mual dan muntah pada ibu hamil trimester pertama.
Jahe efektif mengurangi morning sickness pada ibu hamil trimester pertama kehamilan dalam menurunkan mual dan muntah, selain itu jahe merupakan bahan alami, aman dan mudah didapatkan, maka diharapkan ibu hamil mengonsumsi jahe hangat saat mengalami mual dan muntah.

 

Oleh: Alfu Izzatil Munna
Mahasiswa Prodi S1 Kebidanan dan Profesi Bidan Fakultas Kedokteran Unissula Semarang